Kala Bayi Orangutan Harus Sekolah

TrubusLife
Binsar Marulitua
28 Mei 2018   09:30 WIB

Komentar
Kala Bayi Orangutan Harus Sekolah

Orangutan (Foto: Dokumen KLHK)

Trubus.id -- Satwa orangutan pun dapat merasakan sekolah seperti manusia. Bedanya, pendidikan di sekolah ini bukan untuk belajar membaca dan menulis, melainkan diperuntukkan bagi para bayi orangutan yang belajar hidup bebas di alam.

Adalah Orangutan Forest School atau Sekolah Hutan untuk Orangutan, yang didirikan oleh Badan Litbang dan Inovasi (BLI) KLHK bersama Yayasan Jejak Pulang di KM 6 dan KM 7 Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Samboja. Sekolah ini merupakan tempat pendidikan dan rehabilitasi bagi individu orangutan secara langsung di alam. 

Di sini, orangutan diajarkan cara mengenali pakannya, bagaimana memperoleh pakan, kemampuan memanjat, membuat sarang, serta mengenali berbagai bahaya. 

Baca Lainnya: Perusahaan Perkebunan, Dalang Pembunuhan Orang Utan?

"Fasilitas ini merupakan langkah maju penuh optimis dalam jejaring kerjasama Balitek KSDA, Balai KSDA Kalimantan Timur dan Yayasan Jejak Pulang untuk Program Pusat Penelitian Orangtuan/Orangutan Research Centre (ORC) di KHDTK Semboja.

Sebuah wahana yang bukan hanya sangat bermakna untuk konservasi orangutan, akan tetapi juga sebuah kesempatan besar untuk menghasilkan peneliti Indonesia yang ahli di bidang konservasi orangutan," kata Ahmad Gadang Pamungkas Kepala Balitek KSDA Samboja seperti keterangan tertulis

Pada lahan seluas 130 Ha tersebut, telah dibangun Portacamp yang berfungsi sebagai klinik, gudang buah, kamar bayi orangutan, ruang teknisi, pos pengamanan, rumah pengolahan kompos, dan kandang, serta beberapa fasilitas pendukung lainnya dalam proses pengerjaan.

Baca Lainnya: Bangkai Orangutan Ditemukan Tanpa Kepala, Mengapung di Sungai Kalahien

Gadang menerangkan, selama ini bayi orangutan harus diangkut dari kandang karantina Arboretum Balitek KSDA, menuju sekolah hutan di KM 6. Dengan tersedianya fasilitas di KHDTK ini, bayi orangutan dapat langsung beraktifitas di lokasi sekolah hutan tanpa perlu mobilisasi. 

"Hal ini akan mengurangi frekuensi perjumpaan orangutan dengan manusia, sehingga mempercepat proses pendidikan orangutan, untuk dapat tumbuh secara alami menyerupai kondisi alamiahnya di hutan", lanjutnya.

Sementara Signe Preuschoft dari Jejak Pulang menyampaikan komitmennya untuk melaksanakan kegiatan rehabilitasi orangutan dan menjaga keamanan sekolah hutan. 

“Kami sekuat tenaga menjaga keamanan Kawasan sekolah hutan orangutan dari berbagai ancaman dengan menyiapkan tenaga pengamanan 24 jam. Kami juga memberlakukan non-contact policy bagi bayi orangutan demi keberhasilan program rehabilitasi orangutan,” tuturnya. 

Setiap bayi orangutan membutuhkan waktu sekitar 5-7 tahun untuk siap mandiri dilepasliarkan di alam, tergantung kondisi kesehatan dan kemampuan masing-masing individu.

Selain sarana prasarana, sekolah orangutan juga didukung oleh 2 orang dokter hewan, 1 orang tenaga ahli perilaku satwa, 1 orang ahli biologi, 15 orang teknisi, dan 30 orang tenaga pengamanan sebagai pengelolanya. [KW]

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Kebakaran Hutan Australia Hancurkan Habitat Spesies Terancam Punah

Plant & Nature   21 Jan 2020 - 18:30 WIB
Bagikan:          

Kandungan di Minuman Bersoda Ternyata Bisa Membuat Kita Kecanduan

Health & Beauty   21 Jan 2020 - 17:08 WIB
Bagikan:          
Bagikan: