Nipah, Virus Langka yang Belum Ada Obat dan Vaksinnya

TrubusLife
Diah Fauziah
24 Mei 2018   06:30 WIB

Komentar
Nipah, Virus Langka yang Belum Ada Obat dan Vaksinnya

Virus nipah ditularkan oleh kelelawar buah. (Foto: Deccan Chronicle)

Trubus.id -- Tidak hanya langka dan mematikan, virus nipah sangat berbahaya karena belum ada obat atau vaksin yang bisa digunakan sebagai pencegahan.

Umumnya, tingkat kematian akibat virus ini terbilang tinggi, mencapai 75 persen. Artinya, nipah berpotensi menjadi pandemi mematikan. Tidak heran jika WHO (World Health Organization) mengategorikan nipah dalam daftar prioritas penelitian yang mendesak dilakukan, bersamaan dengan Ebola dan SARS.

Saat ini, virus nipah telah menyerang Kora Kerala di India Selatan. Sembilan orang meninggal dunia, tiga di antaranya positif terinfeksi nipah, sementara enam lainnya masih diuji. Selain itu, 25 korban lain yang diduga terinfeksi virus nipah dirawat di rumah sakit.

Virus nipah ditularkan melalui kelelawar buah ke spesies lain, termasuk ke manusia. Pertama kali, virus ini terdeteksi di Malaysia pada tahun 1998. Saat itu, sekitar 265 orang terinfeksi penyakit aneh yang menyebabkan ensefalitis atau peradangan otak setelah bersentuhan dengan babi atau orang sakit.

Ketika infeksi menular dari babi ke manusia, pihak berwenang membunuh lebih dari satu juta babi untuk menghentikan penyebaran penyakit. Namun, wabah itu membuat 105 orang meninggal. Sejak itu, sejumlah wabah lebih kecil ditemukan di India dan Bangladesh, dengan korban mencapai 211 orang.

Tanpa pikir panjang, peneliti segera mengidentifikasi beberapa spesies kelelawar buah sebagai inang alami dari virus. Dalam beberapa kasus, manusia terinfeksi virus ini setelah minum nira dari pohon kurma yang mungkin telah terkontaminasi oleh kelelawar. Kontak dengan hewan atau orang sakit juga dapat membantu penyebaran virus.

Studi tentang transmisi virus nipah mengungkapkan jika air liur pasien yang terinfeksi cenderung menyebarkan infeksi. Gejala nipah bervariasi. Awalnya, pasien mengalami demam dan sakit kepala, yang diikuti rasa kantuk dan kebingungan. Sementara itu, beberapa pasien mengalami gejala seperti flu, yang kemudian berkembang parah.

Dikutip dari Science Alert, ketika terinfeksi, pasien bisa mengalami koma selama satu atau dua hari. Korban yang selamat dari infeksi awal dapat memiliki masalah kesehatan di kemudian hari, termasuk perubahan kepribadian dan kejang. Dalam beberapa kasus, virus bisa kembali aktif setelah beberapa bulan atau tahun semenjak terinfeksi dan menyebabkan kematian. [DF]
 

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bawang Merah dan Daun Bawang Manakah yang Lebih Sehat

Health & Beauty   29 Jan 2021 - 09:39 WIB
Bagikan:          

Dosen IPB University Berbagi Tips Merawat Ikan Hias

Pet & Animal   12 Jan 2021 - 10:50 WIB
Bagikan:          
Bagikan: