Dua Anak Badak Jawa Lahir di Tengah Ancaman Kepunahan

TrubusLife
Binsar Marulitua
26 April 2018   22:15 WIB

Komentar
Dua Anak Badak Jawa Lahir di Tengah Ancaman Kepunahan

Badak jawa yang lahir di Taman Nasional Ujung Kulon. (Foto: Dokumentasi WWF dan KLHK)

Trubus.id -- Dua Anak badak jawa yang belum diketahui jenis kelaminnya lahir di Taman Naional Ujung Kulon (TNUK). Kelahiran tersebut merupakan simbol harapan baru bagi spesies yang terdaftar dalam Apendiks I Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES) karena jumlahnya yang sangat sedikit di alam dan dikhawatirkan akan punah.

Kelahiran dua anak badak itu diketahui dari hasil rekaman video trap pada Februari lalu. Anak badak jawa dengan induk bernama Puri (ID: 013.2011) yang diberi ID: 073.2018, ditemukan di Blok Rorah Bogo. Sementara anak kedua dari induk yang bernama Dewi (ID: 004.2011) diberi ID: 074.2018, ditemukan di Blok Cikeusik, SPTN Wilayah II Pulau Handeuleum, TNUK. Hingga saat ini, kedua anak badak jawa tersebut belum diberi nama.

Baca Lainnya: Ketika DNA Badak Mengadili Pemburu Liar

“Dengan kelahiran dua badak ini, angka minimum populasi badak jawa di TNUK berubah menjadi 68 individu," ujar Mamat Rahmat, Kepala Balai TNUK saat memberikan keterangan pers di Jakarta (26/04).

Di sela kabar gembira tersebut, TNUK juga berduka. Sebab, Senin (23/4) lalu, Samson, seekor badak jantan, ditemukan mati di Pantai Karang Ranjang di wilayah TNUK. Terkait kematian Samson, Mamat menjelaskan bahwa berdasarkan laporan sementara hasil nekropsi terhadap bangkai badak jawa tersebut, diperkirakan kematian kurang dari 3 hari (sekitar 22 April 2018 malam). Di tubuhnya tidak ditemukan tanda-tanda perburuan dan luka, ataupun infeksi patogen akut.

“Dugaan sementara, Samson mati dikarenakan usia. Perkiraan umurnya lebih dari 30 tahun," jelas Mamat.

Baca Lainnya: Selamat Datang Bayi Badak Hitam Timur, Hewan Terancam Punah

Namun, untuk mengetahui penyebab pasti kematian Samson, pihak TNUK masih menunggu hasil idenfikasi tim dokter hewan Patologi IPB dan WWF Ujung Kulon yang telah melakukan pengambilan sampel seperti usus, otot jantung dan hati.

“Natalitas dan mortalitas adalah hal yang biasa di alam. Yang terpenting ada pertambahan populasi yang cukup tinggi,” ujarnya.

Badak jawa atau Rhinoceros sondaicus Desmarest merupakan spesies langka di antara lima spesies badak yang ada di dunia, sehingga dikategorikan sebagai critically endangered dalam daftar Red List Data Book yang dikeluarkan oleh International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN).

Baca Lainnya: Menyedihkan, Kisah Badak Sumatera Betina Terakhir di Malaysia

Sekretaris Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Herry Subagiadi, mengatakan jika badak jawa diklasifikasikan sebagai jenis satwa dilindungi berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Tumbuhan dan Satwa.

Hasil pemonitoran populasi badak jawa pada tahun 2017 menyebutkan bahwa jumlah minimum badak jawa hanya 67 individu. Dengan kematian Samson dan kelahiran 2 ekor anak badak jawa di TNUK, maka angka minimum populasi badak jawa di kawasan tersebut berubah menjadi 68 individu.

Dengan manajemen populasi dan habitat yang bagus, diharapkan badak akan merasa nyaman, sehingga angka kelahiran dan populasi terus meningkat.

“Keterlibatan masyarakat menjadi kunci keberhasilan konservasi badak,” pungkasnya. [DF]

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Dosen IPB University Berbagi Tips Merawat Ikan Hias

Pet & Animal   12 Jan 2021 - 10:50 WIB
Bagikan:          
Bagikan:          

Tips Penyembuhan Indera Penciuman Usai Terpapar Covid-19

Health & Beauty   21 Des 2020 - 17:12 WIB
Bagikan: